Asal Usul dan Sejarah Pasang Susuk di Indonesia

Pasang susuk adalah istilah yang sudah tidak asing lagi di Indonesia. Dari berbagai macam kalangan, mulai dari pejabat, pemain film, penyanyi, karyawan swasta hingga pekerja seks komersial diberitakan pernah memakai dan bahkan masih sering ‘mengisi’ kembali energi susuk yang dipakai. Apakah ini karena saking dahsyatnya kandungan energi dari susuk?pasang susuk

Konon, susuk sebagai sarana pengasihan dengan sejuta manfaat ini pertama kali muncul berbarengan dengan berdirinya Kerajaan Kutai pada tahun 400 SM. Pada awalnya, Raja Mulawarman memanfaatkan susuk guna meningkatkan kewibawaan dan mematahkan mental para musuhnya. Hal ini berdasarkan bukti-bukti pengaruh susuk yang bisa ditelusuri dari batu tulis dan selebaran kitab yang ditemukan di kecamatan Tenggarong dan Kutai, Kalimantan Timur.

Setelah memilih beberapa wanita untuk dijadikan selir atau dayang pun, Raja Mulawarman dikisahkan sering memandikan mereka dengan menggunakan susuk agar terlihat menawan, anggun dan menggairahkan. Selain di Kalimantan, ternyata susuk juga bekembang lebih pesat di Jawa dan Sumatra. Hal ini dikarenakan pengaruh dari masuknya ajaran Hindu dan Budha yang mengakar kuat di kedua pulau tersebut.

Apakah Anda baru saja menyadarinya? Bahwa pasang susuk adalah kegiatan yang melegenda nan sakral dimana pada jaman dahulu hanya bisa dimanfaatkan secara terbatas oleh pihak kerajaan dan para bangsawan. Tidak seperti cerita yang banyak beredar, mengenai pasang susuk yang merupakan akal-akalan dari dukun atau paranormal tradisional. Bahkan, susuk bisa dikatakan sebagai warisan leluhur atau nenek moyang Indonesia.

Pasang Susuk Sebagai Sarana Pengasihan

Kemudian, bagaimana sejarahnya susuk bisa dikembangkan oleh paranormal? Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa susuk pada jaman dahulu hanya dipakai oleh para bangsawan dan anggota kerajaan saja. Manfaat yang ingin mereka dapatkan dalam memasang susuk adalah sebagai sarana pengasihan. Yakni, agar terlihat berwibawa dalam berbicara, bertindak, untuk meningkatkan kesetiaan para pengikut serta mempengaruhi musuh-musuh mereka.

Susuk sendiri biasanya berupa besi, baja, sayap binatang samber lilin, perak hingga emas yang kemudian dimasukkan ke dalam bagian tubuh tertentu. Seperti, di dahi atau antara dua alis mata, dagu atau sudut bibir, bawah dada kanan atau kiri, punggung kanan atau kiri, pinggul kanan atau kiri, paha dan betis hingga organ di dekat organ intim kewanitaan.

Para bangsawan dan anggota kerajaan biasa melakukan pemasangan susuk dengan dibantu oleh para brahmana atau golongan cendekiawan yang menguasai ajaran, adat, pengetahuan, adab dan keagamaan. Benda asing yang dimasukkan ke dalam bagian tubuh tertentu tersebut, tentu saja tidak berdiri sendiri. Melainkan, terdapat mantra atau amalan khusus yang wajib dilakukan oleh pemakai susuk.

Diantara mantra yang biasa diberikan bersamaan dengan pemasangan susuk guna meningkatkan kewibawaan adalah sebagai berikut, “Pasuryaning janoko yo gerbaningsun,pamatek susuk muncaring nur sejagad”. Mantra ini harus diucapkan sebanyak 21 kali dengan meyakini bahwa hajat tersebut sudah tercapai.

Meskipun tidak diketahui secara pasti, namun dipercaya bahwa golongan brahmana kemudian menurunkan ilmu dan pengetahuannya mengenai cara pemasangan susuk kepada ahli waris atau anak kandungnya. Hal inilah yang kemudian mendorong berkembangnya susuk di Indonesia sebagai sarana pengasihan dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

Seiring berjalannya waktu, susuk tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kewibawaan di hadapan pengikut dan untuk menaklukkan para musuh. Bersamaan dengan bertambahnya ilmu dan pengalaman para ahli spiritual, susuk saat ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam hal hingga membantu menyelesaikan masalah hidup.

Misalnya, untuk mendekatkan orang yang Anda cintai, meningkatkan aura pesona, susuk untuk mengembalikan keperawanan yang bisa membantu menyelamatkan krisis rumah tangga hingga susuk untuk meningkatkan kemerduan suara bagi orator, pembicara publik dan penyanyi.

Yang Paling Banyak Dicari: