Kiat Praktis Mencegah Kesialan Dalam Hidup

Kiat Praktis Mencegah Kesialan Dalam Hidup – Teorinya mudah sekali. Seseorang harus banyak membuat orang lain senang hatinya. Tetapi senang yang dimaksud adalah senang yang diridhai Gusti Allah. Kalimat “senang tetapi benar” ini kalau dijabarkan teramat luas. Orang Jawa membuat tetangganya senang dengan cara mengundang untuk selamatan walau hanya sekedar disuguhi bubur merah-putih.

membuang sial

Ketika bertemu dengan orang anda tersenyum dan salaman, bersikap ramah itu juga membuat orang lain senang. Ketika ada orang butuh anda bisa membantu, ketika ada orang sakit anda menjenguk, ketika berjanji anda tepati, ketika selesai meminjam mengucapkan terima kasih, ketika tetangga butuh istirahat anda tidak membunyikan radio keras-keras, pokoknya hargai hak orang  lain. Cara-cara ini bisa membuang sial.

Agama memberikan alternatif mengundang keber­untungan dan menolak balak (sial) dengan sedekah. Sedekah itu kan macam-macam. Bisa dalam bentuk materi, sikap ramah, uluran tangan (tenaga) yang intinya segala yang membuat orang lain suka bisa disebut sedekah. Kecuali, apa yang disebut senang atau suka itu berada diluar jalur kebenaran. Misalnya, anda mengumpulkan anak­ anak berandal untuk pesta minum-minuman keras dan seks. Ini juga membuat orang lain suka, tetapi yang jenis demikian itu justru menimbulkan sial. Ini tidak bisa disebut sedekah, melainkan hura-hura.

Orang-orang tua kita dulu memberikan pelajaran bahwa setiap prilaku manusia itu akan menjadi “tali gaib”. Setiap berbuat satu kebajikan akan menjelma menjadi seutas tali putih, dan setiap berbuat satu kejahatanjuga menjadi tali yang hitam. Tali putih itu memiliki fungsi yang positif. Disaat kita terperosok lobang bisa menolong mengentaskannya. Disaat kita mencari harta tali itu membantu menariknya, disaat ada bahaya tali itu berputar-putar melindungi kita.

Sedangkan tali yang hitam itu berfungsi negatif. Dia bisa menjadi reribet (semacam sengkala? ) yang justru sering nyrimpet (menghalangi) langkah kaki menuju keberuntungan dan petunjuk kebenaran (hidayah). Orang yang kesrimpet (terlilit) tali hitam itu bisa disebut kualat. Karena itu, jika hal itu terjadi karena murka orang tua,seorang anak harus minta maaf dan ridha dari orang tuanya.

Jika itu karena menahan hak orang lain (utang tidak membayar) maka hak orang lain itu harus dipenuhi terlebih dahulu. Menghilangkan reribet yang timbul karena kesalahan dengan sesama manusia (hanya) bisa diatasi jika sudah  diikhlaskan oleh orang yang dizalimi. Dengan demikian, reribet itu tidak bakalan mampu dihilangkan oleh orang yang ampuh sekalipun.

Orang yang kualat dengan orang tua atau guru satu­ satunya cara hanya mint a maaf kepadanya. Kalau sudah mati, ya ziarah ke makamnya, tradisinya kan begitu. Namun jika itu menyangkut pinjam meminjam, ya berikan pada warisnya yang masih hidup. Allah Maha Mengetahui niat baik seorang hamba.

Bapak percaya cara menghilangkan kualat itu dengan bantuan orang sakti?

Kalau bantuan itu berupa nasihat yang baik lalu dij alankan, misalnya memenuhi hak a tau min ta maaf kepada yang masih hidup, kemungkinan bisa. Tetapi kalau bantuan orang sakti berupa ngelmu untuk menghilangkan reribet, wah-wah …. kok seperti orang yang berani menebus dosa orang lain.

Rasulullah SAW yang melihat seorang sahabatnya yang kualat karena menyia-nyiakan ibu kandungnya sehingga dihukum Allah dengan kesulitan dalam sekaratul maut pun masih perlu mengutus sahabat Ali RA untuk menemui  sang ibu dan minta ridha atas kesalahan anaknya. Baru setelah sang ibu itu memaafkan, sahabat Rasul bisa mengucapkan kalimah tauhid.

Padahal, sebelum itu mulutnya seakan terkunci rapat-rapat. Nah, kalau jaman sekarang ada orang mengaku menghilangkan kualat yang diderita orang lain hanya dengan imbalan ratusan ribu rupiah, alamak hebatnya. Faham semacam itu bukan hanya tidak benar, melainkan tidak sehat bagi pendidikan spiritual umat. Itu disebabkan orang akan cuek. Berbuat zalim semaunya, nanti kalau kualat minta disuwuk orang sakti, ha ha ….

Jadi, penyebab kesialan itu lebih bersumber dari prilaku ?

70 persen begitu! Sedangkan yang 30 persen karena faktor nasib. Ini keyakinan saya. Karena itu, untuk menghilangkan kesialan, seseorang harus mengurangi atau bahkan menghilangkan prilaku negatif yang menyebabkan Gusti Allah dan sesama manusia tidak menyukainya.

Cara membuang sial dengan amalan rohani ?

Saya pemah konsultasi dengan seorang guru ilmu hikmah. Kepadanya saya tanyakan, amalan apa yang menyebabkan seseorang jauh dari balak dan dekat dengan keberuntungan.  Dijawab, istikomahkan membaca surat Ya sin minimal satu kali dalam satu hari satu malam. Mengapa? Karena surat Yasin itu  hikmahnya melebur dosa terhadap Allah SWT. Seseorang yang dosanya ringan kan kalau berdoa mudah dikabulkan.  Logikanya disitu! Padahal, setiap saat orang tentu berdoa auhkan dari balak dan didekatkan dengan keberuntungan.  Cara yang lain, ada yang membaca shalawat Nabi seribu kali dalam satu hari satu malam, istigfar seratus kali. Shalawat diyakini memiliki hikmah menghilangkan keruwetan dan kesempitan.

Kalau soal cara, para ahli ilmu hikmah mengenal berbagai cara. Yang sulit adalah melanggengkan (dawam) amalan itu. Dengan membaca Surat Al-Waqi’ah mempermudah rezeki,  Surat Kahfi untuk yang butuh ilmu laduni dan lain sebagainya. Sekarang sedang ngetren pembuangan sial secara massal  oleh kalangan paranormal. Pendapat Bapak ?  Ditinjau dari ilmu batin masih diragukan karena disitu unsur bisnis le bih mendominasi. Terbukti, masih ada berbagai rekayasa. Misalnya, ada nama-nama sengkala baru yang dibuat semata-mata untuk membodohi umat yang awam. Celakanya, pencipta nama sengkala itu tidak menguasai bahasa kawi, terkesan asal-asalan. Dan nama sengkala itu tidak jelas pakemnya. Diajaran kejawen tidak ada, ini lo yang meragukan.

Ditinjau dari sisi sugesti, ritual semacam itu merniliki dampak positif. Setidaknya, orang yang rnerasa dirinya sial itu  sudah ada keinginan untuk membuang sialnya. Kemauan dan keyakinan itu mempengaruhi kondisi kejiwaannya. Dia lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan hidup.

Kalau ruwatan jarak jauh ?

Mungkin dalam ruwatan itu dilakukan dengan doa-doa tertentu. Kalau doa, jauh dekat sama saja. Kalau Gusti Allah mengabulkan ya bisa-bisa saja. Anda pun bisa mendoakan saya dari jauh, (dan saya pun bisa rnelakukan hal yang sama. Cuma, apakah doa itu dikabulkan, ditunda atau tidak dikabulkan, manusia tidak tahu secai’a pasti.

Ada pesan buat pembaca buku?

Mulailah untuk percaya dengan diri sendiri. Yakihkan bahwa setiap orang berhak untuk mengatur diri sendiri bagaimana mengatur dirinya. Kesialan itu hakikatnya buah dari  perbuatan. Kata orang, ngundhuh wohing pakarti, yaitu, siapa menanam pasti menuai. Karena itu, tanamlah kebajikan setiap saat.

Yang Paling Banyak Dicari: