Inilah Keistimewaan Bulan Suro Bagi Masyarakat Jawa

keistimewaan bulan suro
Warga mengarak tumpeng raksasa berkeliling kampung di Pekulo, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (20/9). Sebanyak 20 tumpeng raksasa dan gunungan hasil bumi itu, diarak untuk menyambut perganian tahun Islam (Muharam) atau dalam kalender Jawa dikenal dengan bulan Suro. 

Masyarakat Jawa memiliki banyak tradisi dan budaya. Dimana setiap tradisi dan budaya itu memiliki makna yang tersendiri bagi mereka. Salah satu tradisi yang bermakna atau istimewa di masyarakat Jawa yaitu memperingati bulan Suro. Keistimewaan Bulan Suro di masyarakat Jawa ini karena ada beberapa faktor, misalnya, di bulan ini dijadikan sebagai waktu untuk menyucikan diri serta mengingat kesalahan.

Bulan Suro termasuk salah satu bulan yang masuk di kalender Jawa. Jika dimasukkan ke dalam sistem penanggalan Islam, bulan Suro jatuh pada 1 Muharram, merupakan malam Tahun Baru Islam.

Jika dilihat dari segi Bahasa, kata Suro tersebut berasal dari Bahasa Arab ‘Asyura’. Nama penanggalan tersebut dicetuskan oleh Sultan Agung, pemimpin Kerajaan Mataram Islam.

keistimewaan bulan suro

Di masyarakat Jawa, bulan Suro memiliki keistimewaan tersendiri dan dimaknai dengan berbagai cara yang berbeda-beda. Seperti tapa bisu, tirakatan, kungkum, kirab budaya, dan pencucian pusaka atau biasa disebut penjamasan. Sedangkan umat muslim memperingati 1 Suro atau  malam tahun baru Islam dengan cara melakukan beberapa amalan, seperti melakukan puasa sunah (Asyura dan Tasu’a) serta menyantuni anak yatim.

Tapi masyarakat Jawa juga memaknai Bulan Suro sebagai bulan yang sakral dan dikaitkan dengan hal yang berbau spiritual serta mistis. Hal ini tak terlepas dari kepercayaan masyarakat zaman dahulu yang percaya adanya makhluk tak kasat mata atau makhluk gaib. Sebagian masyarakat masih ada yang percaya bahwa malam 1 Suro merupakan malam keramat yang berkaitan dengan makhluk halus.

Berbeda lagi jika berada dii lingkungan Keraton Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta yang lebih memaknai bulan Suro sebagai bulan suci yang dilimpahi rahmat oleh Allah SWT. Dalam pandangan Jawa-Islam memandang bahwa seorang Sultan merupakan seorang wakil Allah di bumi atau disebut khalifatullah, turut menyumbangkan kepercayaan sebuah mitos melaksanakan hajat di bulan Suro itu pamali.

Dikutip dari idntimes.com, Robi Wibowo, dalam Nalar Jawa Nalar Jepang (UGM Press, 2018), menulis bahwa bulan Suro merupakan waktu pembersihan atau penyucian pusaka yang dimiliki oleh kerajaan. Sehingga hajatan di bulan Suro hanya diperbolehkan hanya untuk pihak keraton saja. Sedangkan masyarakat dianggap tabu melaksanakan hajatan yang bersifat pribadi. Misalnya, pernikahan, pindah rumah, atau akikah. Sebagian masyarakat masih percaya jika mitos tersebut dilanggar akan mendatangkan kesialan atau kualat.

Baca juga: Arti dari Tradisi Buka Luwur di Makam Leluhur Saat Bulan Suro

Facebook Comments