HASRAT WANITA JAWA: PESONA NAN MEMBARA

HASRAT WANITA JAWA: PESONA NAN MEMBARA – Kebanyakan orang melihat figur wanita Jawa adalah sosok yang lemah, dan itu tidak salah sebab para leluhur Jawa membangun citra perempuan yang ideal dengan segala atribut kelemahlembutannya. Namun jika ada orang yang mampu melihat segala kekuatan dalam kelembutan maka akan tampak betapa perkasanya citra perempuan Jawa. Keperkasaan itu akan membalik pandangan feodalistik para priyayi terhadap wanita yang digambarkan R.Ng. Ranggawarsita dalam serat cemporet:

wanudya bebasanipun, pan swarga nunut kewala

Bukan begitu seharusnya! Sesungguhnya justru wanitalah pemilik segalanya. Bukan hanya surga-neraka, tapi ia juga yang menjadi pemilik semua isi dunia ini. Dialah empunya dunia ini yang  sesungguhnya, karena itu dia disebut “per-empu-an”.

Dalam dunia seks, para lelaki-Iah yang sering ter-KO oleh perempuan. Kasus lemah syahwat  menghantui hampir semua lelaki yang menganggap penting kehidupan seksual. Barangkali sebagai pelarian dari kelemahan itulah banyak lelaki berselingkuh (plus madon), yang terkesan sedikit menipu diri seakan-akan dia menjadi perkasa dengan meniduri perempuan lain. Sesungguhnya tindakan itu bisa pula sebagai berikut: yaitu mereka benar-benar gagal menundukkan pesona nan membara dari wanita Jawa baik di dalam maupun di luar ranjang rumah tangganya.

Bahwa pengokohan kekuasaan seksual dalam perilaku maskulin mereka pada dasarnya adalah kelemahan mereka menghadapi pesona feminin wanita Jawa. Sehingga bisa dikatakan kalau wanita Jawa tidak perlu menjadi maskulin untuk mendapatkan kekuasaan, tetapi ia justru memanfaatkan kefemininannya. Dalam skala lebih luas, bisa dilihat bagaimana sesungguhnya wanita dalam kultur Jawa dan konsep kekuasaannya yang cenderung feminin menempatkan diri dan bahkan dapat mempengaruhi keputusan keputusan publik.

Banyak pandangan yang menempatkan kekuasaan wanita Jawa hanyalah berada dalam wilayah rumah tangga (domestik). Namun bagi Geertz, dominasi yang demikian memiliki efek yang bisa meluas ke dalam masyarakat menjadi “jaringan dominasi wanita”. Selanjutnya dari jaringan itu, lahirlah kuasa yang nyata.

Menurut Geertz, wanita menghubungkan kekuasaannya dengan wanita lain atau dengan orang lain sehingga jaringan itu begitu kuat dan dominasi wan ita meluas hingga ke suatu bentuk kekuasaan nyata. Dalam konteks ini, Rogers sebagaimana dikutip oleh Christina S. Handayani dan Ardhian Novianto (2004), lebih jauh menambahkan bahwa dominasi laki-laki pada akhirnya hanya berhenti pada ideologi. Dan ketika dihadapkan dengan kenyataan maka dominasi ini pada akhirnya hanya menjadi mitos. Sedang kan dominasi wanita adalah dominasi nyata praktis yang menunjukkan kuasa yang hidup.

ilmu-pesugihan-putihSalah satu ciri kekuasaan wanita Jawa adalah kepasifan dan ketenangan, tidak menunjukkan gejolak pemberontakan. Kekuatan nilai budaya Jawa seakan mampu menekan wanita Jawa untuk mampu menjaga harmoni dengan mengabdi dan menghargai laki-laki, suaminya. Mereka dengan jeli tetap mampu bersiasat untuk menghadapi tata krama yang terkadang menjadi “jerat budaya”. Mereka mampu mengangkat sumber konflik dan mengembalikan kepada yang berkuasa untuk menjawab “sendiri”. Sebuah aksi yang dilaksanakan dalam batas-batas pola perilaku urmat (menghormati) dari kebudayaan Jawa.

fengshui-bisnis-pusatpengobatan-cina-sinshesolusi-kekayaanramalan-cinta

Para leluhur Jawa tampaknya menyadari benar kuasa nyata wanita Jawa dalam kehidupan. Maka dalam konteks seksualitas, para leluhur Jawa merumuskan asmaragama yang sesungguhnya ditujukan baik bagi kaum wanita maupun kaum lelaki agar tercipta harmoni yang merupakan gagasan sentral kosmologi Jawa. Sebab, bagaimanapun kehidupan seksual yang timpang akan meruntuhkan harmoni, baik harrnoni rurnah tangga dalam skop terbatas hingga harrnoni masyatakat dan negara dalam lingkup yang lebih luas. Dalam asmaragama, harmoni semesta kehidupan ini dibangun dengan dasar kecerdasan berasmara sebagaimana akan dibicarakan dalam buku ini.

Yang Paling Banyak Dicari: