Asal Usul Goa Ratu Kalinyamat

Asal Usul Goa Ratu Kalinyamat – Kota Kalinyamat terdapat 18 km dari Jepara ke arah Kudus. Dahulunya, Kalinyamat ini adalah pusat pemerintahan Jepara (Jung Mara). Kota Jepara serta Kalinyamat memanglah susah dipisahkan bilamana kita menceritakan histori Jepara serta Ratu Kalinyamat.

Jepara, awal mulanya menurut narasi, yaitu tempat kedudukan Raja Sandang Garba (raja pedagang), anak ke-2 Suwela Cala (raja Medang Kamulan). Sendang Garba ini ditaklukkan oleh Dandang Gendis (adik bungsunya) yang memerintah Kuripan (Kahuripan) serta Jenggala dengan pertolongan orang Cina. Sandang Garba dimakamkan di Tayu sedang rakyatnya dipindahkan ke Tuban dibawah perintah Tisna Yuda (asal Blora).

Satu diantara catatan histori perihal Jepara ditulis Tome Pires dalam bukunya yang sangatlah populer berjudul Suma Oriental. Buku itu diisi cerita perjalanannya di pantai utara pulau Jawa pada bln. November 1513 hingga Januari 1515. Dalam catatan itu dijelaskan bahwa pada th. 1470 Jepara adalah kota pantai yang baru ditempati oleh 90 – 100 orang dan di pimpin oleh Aryo Timur. Dengan ketekunan serta keuletan, Aryo timur sukses meningkatkan kota pantai kecil, yang dikelilingi benteng berbentuk kayu serta bambu ini, jadi suatu bandar yang cukup besar. Bahkan juga ia juga sukses memperluas kekuasaannya hingga ke Bengkulu serta Tanjung Pura, sekalipun Jepara masih tetap ada dibawah kekuasaan Demak.

Pada th 1507, Aryo Timur digantikan oleh puteranya yang bernama Pati Unus yang pada saat itu masih tetap berumur 17 th.. Juga sebagai penguasa yang masih tetap relatif muda, Pati Unus di kenal sangatlah dinamis. Ia bukanlah saja sukses meningkatkan armada perang, namun ia juga dapat melanjutkan perjuangan ayahnya di bagian ekonomi hingga Jepara jadi suatu bandar perdagangan. Jepara jadi satu diantara pusat perdagangan di pesisir utara pulau Jawa.

Belum genap 5 th. memimpin Jepara, Pati Unus sudah memadukan armada perangnya dengan armada perang dari Palembang, untuk menyerang kolonialisme Portugis yang bercokol di Malaka. Armada Pati Unus yang terbagi dalam 100 buah kapal – yang paling kecil beratnya 200 ton ini hingga di Malaka tanggal 1 Januari 1513. Sayangnya, penyerangan ini tidak berhasil. Dari 100 buah perahu yang di kirim ke Malaka, cuma 8 buah yang bisa kembali pada Jepara. Kegagalan ini menurut penulis Portugis Joan De Baros dalam bukunya ” Kronik Raja D Manoel, Pati Unus ” bikin Pati Unus sangatlah berduka serta kecewa, hingga ia memerintahkan kapal paling besar yang bisa kembali pada Jepara, untuk diabadikan juga sebagai monumen perang di pantai Jepara.

Pati Unus lalu digantikan oleh ipar Falatehan (yang menurut versus ini namanya tak di ketahui). Ia berkuasa dari th. 1521 sampai th. 1536 (mungkin saja yang benar th. 1546). Dalam pemerintahannya, Jepara turut menolong Falatehan dalam merebut Banten serta Sunda Kelapa, termasuk juga mengusir bangsa Portugis dari Sunda Kelapa pada th. 1527.

Alkisah sepeninggal raja ke-2 Demak, Adipati Unus (Pangeran Yunus Abdul Kadir/Sabrang Lor) pada th. 1521, Trenggana menggantikannya. Sebenarnya menurut urutan, yang memiliki hak juga sebagai penggantinya yaitu Pangeran Suriawiata, kakak Trenggana serta adik Adipati Unus. Tetapi pangeran itu dibunuh oleh Prawoto, anak Trenggana. Diprediksikan pembunuhan itu berlangsung saat sebelum atau paling lambat th. 1521. Pangeran yang terbunuh itu lalu di kenal dengan gelar Pangeran Sekar Seda Lepen.

Trenggana lalu jadi Raja Demak. Debutnya sepanjang seputar 25 th. juga sebagai penguasa saat itu terlebih fokus pada penyatuan pulau Jawa. Ia kirim pasukan ke beragam tempat untuk menaklukan wilayah-wilayah sisa lokasi Majapahit yang berdiri sendiri-sendiri mulai sejak kemampuan Kerajaan Majapahit melemah.

Trenggana terbunuh di Panarukan th. 1546, waktu berbarengan balatentaranya berperang melawan lokasi timur Jawa. Tak lama kemudian, Prawoto (anak Trenggana) dibunuh oleh Arya Penangsang (anak Pangeran Sekar Seda Lepen). Demikian juga, Pangeran Hadiri – ipar Prawoto serta suami Retno Kencana – juga dibunuh oleh Arya Penangsang, yang juga murid Sunan Kudus.

Kematian Pangeran Hadiri mengakibatkan isterinya, Retno Kencana, terasa terpukul. Ia bersumpah bakal bertapa telanjang di bukit Danaraja hingga Aryo Penangsang tewas.

Disamping itu sesudah Prawoto tewas, berlangsung perebutan tahta di Demak tetapi pada akhirnya Mas Karebet/Jaka Tingkir (menantu Trenggono yang isterinya yaitu adik Retno Kencana) yang sukses memegang kendali sesudah pasukannya sukses mengalahkan Aryo Penangsang. Mulai sejak tersebut Retno Kencana ingin bebusana lagi. Dalam momen itu yang sukses membunuh Aryo Penangsang yaitu Sutawijaya – anak Kiai Gede Pemanahan- yang juga diangkat anak oleh Mas Karebet. Dijelaskan dalam narasi bahwa Sutawijaya membunuh Aryo Penangsang dengan memakai senjata Kyai Plered.

Sesudah Aryo Penangsang tewas, Retno Kencana turun dari pertapaannya serta dilantik juga sebagai penguasa Jepara dengan gelar Ratu kalinyamat. Penobatan ini berjalan dengan Suryo Sengkolo Trus Karya Tataning Bumi yang disangka dikerjakan tanggal 12 Rabiul Awal atau tanggal 10 April 1549. Karena kepemimpinan Ratu Kalinyamat kurun waktu singkat Jepara berkembang bukanlah saja juga sebagai bandar paling besar di pesisir utara pulau Jawa, namun juga mempunyai armada perang yang sangatlah kuat. Oleh penulis Portugis, Diego De Conto, Ratu Kalinyamat digambarkan juga sebagai ” Rainha de Jepara senhora pederose e rica ” yaitu Ratu Jepara, seseorang wanita yang sangatlah berkuasa.

Armada Kerajaan Demak yang diperintah oleh Ratu Kalinyamat di beritakan pernah menyerang Malaka yang saat itu dikuasai oleh kolonialis Portugis. Paling sedikit serangan itu dikerjakan sejumlah 3 kali, yaitu th. 1551, 1574 serta 1575 M.

Dijelaskan dalam histori bahwa pada th. 1551 armada dari Jepara (Ratu Kalinyamat) bertempur melawan Portugis di Malaka. Pada tanggal 11 Juni 1551, armada dari Jepara – yang berhimpun dengan armada dari Kerajaan Melayu, Kerajaan Perak (Sultan Muzaffar Syah) serta Kerajaan Pahang- dengan seputar 200 kapal beserta 5000 laskar mendarat serta menyerang kota Malaka serta sekitarnya.

Waktu menyerbu benteng Portugis A Famosa yang tangguh, 800 orang laskar yang menyerbu tewas lantaran dihujani balok-balok, batu-batu serta granat-granat hingga kiat dirubah jadi mengepung benteng. Tetapi lantaran ada desas-desus bahwa bakal tiba armada Portugis yang kuat jadi Sultan Alaudin Riayat Syah II dari Kerajaan Melayu hentikan peperangan serta pengepungan yang telah berjalan tiga bln. serta seluruhnya pasukan Kerajaan Melayu ditarik.

Setelah itu pada th. 1574, armada Jepara menolong Kerajaan Aceh serta Johor menyerang Portugis di Malaka. Serangan itu tidak berhasil meskipun sudah mengadakan pengepungan sepanjang 3 bln.. Armada Jepara di pimpin oleh Ki Demang Laksamana.

Pada th. 1575 kembali pada armada Japara dari Jawa menyerbu Malaka. Serangan itu bisa dihalau lantaran ada pertolongan dari Goa. Th. 1570 s/d th. 1575 memanglah adalah masa-masa gawat Malaka lantaran hadapi beragam serbuan.

Ratu Kalinyamat yang berkuasa sepanjang 30 th. lebih ini, sukses membawa Jepara ke puncak kejayaan. Terkecuali pernah menjalin persahabatan dengan Hitu (Ambon) dalam rencana melawan Portugis, Ratu Kalinyamat juga sukses meningkatkan Jepara jadi bandar perdagangan paling besar di pesisir utara pulau Jawa.

Pada masa itu, seni ukir mulai tumbuh di Jepara. Satu diantara bukti yang bisa dipandang yaitu ada ornament di Masjid Mantingan, dimana Pangeran Hadiri dimakamkan, panil-panil dindingnya dihiasi dengan relief-relief berupa garis kurawal. Sedang motif hiasan yang diambil serta terukir disana berbentuk tumbuh-tumbuhan, bunga teratai serta hewan, gunung-gunungan, pertamanan serta ornament kelelawar.

Kemungkinan pada th. 1579 Ratu Kalinyamat wafat. Ratu Kalinyamat dimakamkan di Mantingan/Pamantingan (dekat Jepara), dekat makam suaminya. Pamantingan ini diakui juga sebagai tempat suci.

Diberitakan bahwa Ratu Kalinyamat tak memiliki anak. Karenanya kemenakannya, yang jadikan anak angkat, bernama Pangeran Jepara (anak Sultan Hasanudin dari Banten), menggantikannya juga sebagai penguasa Jepara.

Pangeran, yang di beritakan pernah berupaya menempati tahta Banten serta sukses menempati Bawean ini, berkuasa hingga th. 1599. Kekuasaannya selesai lantaran pasukan Panembahan Senopati dari Mataram datang menyerbu. Jepara diduduki serta kota Kalinyamat dihancurkan. Tak ada berita tentang nasib keluarga penguasa/orang utama Jepara saat itu. Mulai sejak waktu itu juga Jepara di pimpin oleh petinggi satu tingkat bupati yang ditunjuk oleh Mataram.

Sesudah kerajaan Jepara roboh, berlangsung kekosongan penguasa. Baru pada th. 1616 Jepara di pimpin oleh Kyai Demang Laksamana yang lalu digantikan berturut ikut oleh Kyai Wirasetia, Kyai Patra Manggala, Ngabehi Martanata, Ngabehi Wangsadipa, Kyai Reksa Manggala, Kyai Wiradika, Ngabehi Wangsadipa (jabatan ke-2), Ngabehi Wiradikara, Wira Atmaka, Kyai Ngabehi Wangsadipa, Tumenggung Martapura, Tumengung Sujanapura, Adipati Citro Sumo I, Citro Sumo II serta Adipati Citro Sumo III. Penguasa yang paling akhir ini yaitu penguasa Mataram yang paling akhir karena kemudian Jepara jadi lokasi Belanda. Tetapi pada saat transisi, Belanda tetap masih menggunakan Adipati Citro Sumo III. Ia lalu digantikan oleh Citro Sumo IV, Citro Sumo V, serta Adipati Citro Sumo VI.

Pelajaran yang bisa dipetik tentang histori serta cerita Ratu Kalinyamat ini diantaranya yaitu :

  • Lantaran sekian kecewa suaminya dibunuh, Ratu Kalinyamat bertapa bugil (yg tidak umum untuk umat Muslim wanita). Hanya lantaran dendam yang mungkin saja telah sekian mencapai puncak dalam dianya. Mujur bahwa ada yang lalu membunuh pembunuh suaminya hingga Ratu Kalinyamat hentikan tapanya yang “tidak normal” itu.
  • Pengalaman memiliki kekuatan di laut masih tetap ada di zamannya, meskipun mungkin saja tak sehebat zaman Gajah Mada mempersatukan Nusantara. Dengan kekuatan itu, akses Jepara ke beragam lokasi Nusantara masih tetap ada (diantaranya ke Ambon). Sesudah Ratu Kalinyamat tidak ada, bisa disebutkan kemashuran beberapa penguasa Jawa di laut mulai hilang.

Yang Paling Banyak Dicari: